no comments

Eksotisme Pulau Kemaro Palembang Saksi Cinta Yang Kandas di Sungai Musi


Pulau Kemaro Palembang

Pulau Kemaro Palembang – Berpetualang di Pulau Sumatera sanggup menghadirkan suasana berbeda terutama karena kekayaan alamnya yang menawarkan keindahan luar biasa. Dataran Gayo Aceh, Danau Toba Sumatera Utara, Danau Maninjau dan Air Terjun Lembah Anai di Sumatera Barat adalah sebagian kecil dari ribuan tempat wisata di Sumatera yang kini semakin mendunia. Eksotisme alam yang natural tanpa tersentuh polusi maupun limbah semakin mengukuhkan potensi wisata yang memukau jutaan pasang mata wisatawan.

Menelusuri satu persatu obyek wisata alam di bumi Sumatera sepertinya wisatawan wajib singgah di Provinsi Sumatera Selatan untuk mengunjungi tempat wisata yang begitu familiar yaitu Pulau Kemaro. Sebagai informasi bagi wisatawan yang belum pernah datang di tempat ini, Pulau Kemaro sejatinya adalah Delta kecil yang berada di kawasan Sungai Musi. Posisinya cukup dekat dengan sentra industri di Palembang seperti Pabrik Pupuk Sriwijaya maupun Pertamina Plaju. Ada cerita yang cukup melegenda di pulau ini terutama kisah tentang Makam Putri Raja, Vihara China juga Kuil Buddha.

Bagi masyarakat Palembang atau wisatawan yang sering berkunjung di Sumatera Selatan tak akan sulit menemukan lokasi dimana Pulau Kemaro berada. Jika pengunjung memulai perjalanan dari Jembatan Ampera maka ke Pulau Kemaro hanya tinggal sekitar 6 kilometer saja. Namun jika berangkat dari Pusat Kota Palembang maka pengunjung harus menempuh jarak sekitar 40 kilometer. Selain menyaksikan panorama alam yang menakjubkan di pulau ini pengunjung bisa mendapatkan banyak wawasan sejarah maupun informasi mengenai asal-usul Pulau Kemaro dari penduduk lokal.

Pulau Kemaro Palembang

Vihara China, Kuil Buddha dan Sejarah Pulau Kemaro

Pulau Kemaro kini menjelma menjadi tempat wisata paling populer di kawasan Sungai Musi. Di pulau ini pengunjung bisa melihat dari dekat sebuah Vihara China atau juga disebut Kelenteng Hok Tjing Rio. Masih di lokasi yang sama berdiri bangunan Kuil Buddha yang juga bebas dikunjungi wisatawan. Di hari-hari khusus banyak sekali umat Buddha yag datang ke Kuil Buddha untuk berziarah dan berdoa. Tak lupa setiap perayaan Tahun Baru China atau Imlek pasti diadakan acara Cap Go Meh yang seru.

Seperti yang dibahas sebelumnya Pulau Kemaro Palembang memiliki sejarah tersendiri yang erat kaitannya dengan cerita yang kini terus berkembang di masyarakat. Sejarah tentang pulau ini tertulis pada sebuah batu yang terletak tak jauh dari Vihara China. Pada zaman dulu di Pulau Kemaro ini terdapat sebuah makam seorang putri raja Palembang yaitu Putri Siti Fatimah.

Pulau Kemaro Palembang

Kisah ini berawal dari datangnya seorang Pangeran dari Negeri China bernama Tan Bun An. Sang pangeran datang jauh-jauh dari daratan China ke Palembang dengan maksud untuk berdagang. Sewaktu meminta izin di istana untuk berdagang, secara tak sengaja sang pangeran bertemu seorang putri cantik bernama Siti Fatimah yang tak lain adalah putri dari raja Palembang sendiri. Pangeran pun langsung jatuh cinta, dan bak gayung bersambut Siti Fatimah juga mengisyaratkan perasaan yang sama.

Singkat cerita Pangeran Tan Bun An dan Siti Fatimah menjalin cinta bahkan mereka berencana mengikat jalinan kasih dalam ikatan pernikahan. Suatu hari sang pangeran membawa kekasih pujaannya ke Negara China untuk diperkenalkan dengan keluarga besar Pangeran. Tak berselang lama mereka kembali ke Kerajaan Palembang dengan membawa hadiah 7 guci emas.

Ketika perjalanan kembali ke Palembang sudah sampai di Sungai Musi sang pangeran berniat melihat emas yang tersimpan dalam 7 guci. Begitu guci-guci dibuka Pangeran Tan Bun An terkejut bukan kepalang manakala melihat 7 guci tersebut hanya berisi sayuran sawi. Sang pangeran marah besar lalu melemparkan semua guci ke Sungai Musi. Namun ketika pangeran melemparkan guci terakhir, guci tersebut terjatuh di dek kapal dan pecah berantakan. Yang membuat pangeran menyesal adalah ketika melihat banyak emas yang sebenarnya berada di bawah tumpukan sawi.

Tanpa memikirkan resikonya Pangeran Tan Bun An langsung terjun ke Sungai Musi bermaksud mengambil kembali guci-guci berisi emas yang sudah tenggelam di dasar sungai. Bahkan seorang pengawal yang menemani selama perjalanan juga terjun ke sungai untuk membantu. Malangnya, baik Pangeran Tan Bun An maupun pengawalnya tidak juga muncul di permukaan. Hal ini menimbulkan kecemasan pada diri Siti Fatimah. Karena sedih sang kekasih tenggelam maka Siti Fatimah mengambil keputusan untuk terjun dan mati bersama kekasih hatinya di Sungai Musi.

Untuk mengenang kisah cinta Pangeran Tan Bun An dan Siti Fatimah, juga pengawalnya yang berani mengorbankan dirinya, di Sungai Musi maka kemudian dibangun sebuah kuil di Pulau Kemaro Palembang dimana terdapat Makam Siti Fatimah di lokasi yang sama.

Aktivitas Menarik di Pulau Kemaro

Banyak aktivitas yang bisa dilakukan pengunjung di Pulau Kemaro seperti berjalan-jalan menyusuri Klenteng Hok Tjing Rio yang menurut cerita dibangun pada tahun 1962 silam. Pengunjung juga bisa berziarah di makam Pangeran Tan Bun An dan Siti Fatimah yang terletak berdampingan tepat di depan Klenteng. Selanjutnya pengunjung juga bisa menyaksikan dari dekat Pagoda berlantai 9 yang berdiri kokoh sejak tahun 2006 lalu.

Pulau Kemaro Palembang

Satu hal yang unik, di Pulau Kemaro wisatawan juga berkesempatan mengunjungi Pohon Cinta. Mengapa disebut Pohon Cinta? Konon Pohon Cinta melambangkan cinta sejati yang terjalin antara dua anak manusia berbeda bangsa, tentu saja ini merujuk pada kisah cinta Pangeran Tan Bun An dan Siti Fatimah. Menurut cerita, siapa saja pasangan yang mengukir nama di Pohon Cinta ini maka kisah cintanya akan abadi.

Bagi wisatawan yang ingin berlibur selama beberapa hari di Pulau Kemaro Palembang sudah tersedia banyak hotel dan penginapan disekitar lokasi. Puas berlibur jangan lupa membeli Empek-Empek Palembang untuk oleh-oleh teman atau keluarga tercinta.

Reply

hit counter
Select Language